rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Selasa, 03 Desember 2013

Why You Never Told Me? Who Are You?

image: deviantart.com


Pukul 19.03 WIB. Mataku tertuju pada layar handphone-ku. Gelap.

Ia benar tak lagi menghubungi. Ah, harusnya aku tahu diri. Tiga bulan saling bertukar cerita, aku bahkan tak pernah tahu namanya. Tak tahu apa pun tentangnya.




Tiga bulan lalu...
Sekitar pukul 19.00 WIB, telepon genggamku berdering. “Hallo,” suara yang tak kukenal menyapa. “Ayu, yah?” Dengan ragu, aku menjawab, “Iya, ini siapa?” Tanpa menghiraukan pertanyaanku, ia langsung menanyakan kabar. Masih berusaha bersopan-santun, aku menjawab dan kembali bertanya, “Ini siapa, yah?” Ia kembali bertanya hal lain tanpa menghiraukan pertanyaanku. Aku mulai kesal dan sekali lagi bertanya hal yang sama. Dia hanya menjawab, “Aku akan kasih tahu jika saatnya tiba.”

Tiga bulan berlalu, dengan setiap malam kami saling bertukar suara, cerita, dan rasa. Aneh, selama tiga bulan aku tak lagi peduli siapa dia, tak lagi bertanya “Kamu siapa?” Aku hanya merasa: dia temanku. Dia dekat denganku. Hanya itu.

Tibalah saatnya rasa tak-peduliku terusik. Aku kembali bertanya, “Kamu siapa sebenarnya?” Dia hanya menjawab, “Maaf, aku gak bisa kasih tahu. Sekali lagi maaf, aku gak bisa hubungi kamu lagi. Take care, yah...”

Disconnected


Dibuat saat pelatihan blogger,
Jakarta, 1 - 4 Desember 2013 

The Bunny, The Me...



My Own Pic.
Kelinci. Simbol yang kupakai sejak sekitar tahun 2009. Bukan, simbol ini sebenarnya bukan berasal dariku sendiri. Awalnya, seorang kawan menyematkan simbol itu padaku. Why? Hanya karena suatu hari aku membeli sebuah puppet (boneka tangan) berbentuk kelinci warna pink. Ia tahu aku tidak suka warna pink, dan selama ini pun aku tak suka boneka. Namun, saat aku menemukan boneka tangan itu, entah kenapa aku merasa “jatuh cinta”. Dari dalam etalase toko, mata kelinci itu seakan memintaku untuk membawanya pulang. Dan... ya, aku pun benar membeli dan membawanya pulang. Sejak itulah kawanku menyebutku kelinci.


Terlepas dari itu, aku pun merasa simbol kelinci cukup sesuai denganku. Telinga kelinci yang panjang menggambarkan sifatku yang suka mendengar, mendengar musik maupun cerita dan pengalaman orang lain. Ya, itu ciri yang paling lekat denganku. Orang lain pun mengakui bahwa aku adalah pendengar yang cukup baik. Mungkin karena itu juga Tuhan menggiring takdirku menjadi seorang konselor. Mungkin.



Dibuat saat pelatihan blogger,
Jakarta, 1 - 4 Desember 2013 

Senin, 02 Desember 2013

Rape is NOT a Joke!

Google Images
"Rape is not a joke!"


Begitu yang tertulis dalam timeline seorang kawan facebook-ku sore tadi. Bukan pertama kalinya kata-kata itu kulihat di media sosial. Bukan juga sekedar kedua atau ketiga kalinya. Tapi sering. Ya, sering. Aku pun tergerak untuk berkomentar.

"Totally agree! Padahal menjadikan isu perkosaan sebagai bahan candaan bisa berpengaruh juga lho pada sikap orang terhadap pelaku, korban, dan perkosaan itu sendiri. Menjadikan isu ini sebagai bahan candaan cuma akan mengurangi sensitivitas mereka dan orang lain. Perkosaan jadi sulit dipandang sebagai sesuatu yang penting dan serius.
Miris, melihat masih ada orang yang segitu gak sensitifnya terhadap isu ini. Padahal kejahatan kemanusiaan ini, bahkan di Indonesia, angka kasusnya sudah sangat memprihatinkan."


Tak lama setelah menulis komentar, aku teringat posting-an lain. Beberapa waktu yang lalu, di timeline seseorang yang berbeda aku membaca status curhat mengenai sebuah kuliah hukum. Dalam timeline itu dikatakan bahwa saat membahas kasus perkosaan, sejumlah mahasiswa tertawa-tawa dan menjadikannya bahan candaan. Hufffttt... Miris. Banget! 


Ditulis saat pelatihan blogger
Jakarta, 1 - 4 Desember 2013